Rumah tak lagi Mewah: Program 3 Juta Rumah Sediakan Hunian Terjangkau

Pekanbaru, Memiliki rumah sendiri merupakan impian banyak keluarga di Indonesia, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Namun, tingginya harga tanah, biaya perizinan, dan kompleksitas proses pembangunan sering kali menjadi kendala utama.

Pemerintah kini menghadirkan angin segar melalui program nasional bertajuk 3 Juta Rumah: Karpet Merah untuk Rakyat, yang memberikan berbagai kemudahan dan insentif demi mewujudkan hunian layak bagi seluruh lapisan masyarakat. axl parfum

Dalam suasana dialog yang akrab dan interaktif, Kepala Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan dan Kawasan Permukiman (BP3KP) Sumatra III, Yenni Sofyan Mora, memaparkan fakta yang cukup mengkhawatirkan.

“Masih ada hampir 10 juta rumah tangga yang belum memiliki rumah, dan 26,9 juta tinggal di rumah yang tidak layak huni,” ujar Yenni di Kota Pekanbaru, Riau.

Data itu merujuk pada hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2023 dan menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam mempercepat langkah-langkah penyediaan hunian.

Program 3 Juta Rumah hadir sebagai jawaban nyata. Pemerintah menargetkan pembangunan dan renovasi 3 juta unit rumah hingga tahun 2029, yang terdiri atas 1 juta unit di kawasan perkotaan, 1 juta di perdesaan, dan 1 juta di wilayah pesisir.

Lebih dari sekadar angka, keistimewaan program ini terletak pada konsep “karpet merah” — simbol kehadiran negara yang mempermudah akses masyarakat terhadap hunian layak melalui sejumlah insentif, antara lain:

  1. Bebas Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).
  2. Gratis biaya Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).
  3. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah hingga 100 persen untuk rumah dengan harga maksimal Rp2 miliar,
  4. Proses perizinan yang cepat, dengan waktu maksimal 10 hari kerja.

“Sekarang, masyarakat tidak perlu lagi memikirkan biaya tambahan yang memberatkan. Semua disederhanakan agar rumah tidak lagi menjadi impian yang mahal,” jelas Yenni.

Program ini dijalankan dengan semangat gotong royong, melibatkan berbagai pihak, termasuk pengembang, masyarakat, organisasi sosial, perusahaan melalui program tanggung jawab sosial (CSR), dan Bank Indonesia dalam memperluas akses pembiayaan. Bahkan, pemerintah juga memanfaatkan tanah negara untuk mendukung masyarakat yang membutuhkan.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Informasi Publik Ditjen Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Nursodik Gunardjo, menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menyebarkan narasi positif melalui ruang digital.

“Rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan fondasi keluarga, pendorong ekonomi, dan penguat sosial. Kami ingin anak muda turut menyuarakan hal ini agar ruang digital dipenuhi dengan optimisme,” ujarnya.

Peserta kegiatan, Rani (21), mengaku baru memahami pentingnya peran platform resmi seperti Indonesia.go.id dalam mengakses informasi program strategis. “Saya kira sebelumnya pemerintah itu jauh dari masyarakat, tapi ternyata kanalnya sudah ada dan bisa diakses kapan saja,” tuturnya.

Senada dengan itu, Andi (23), seorang mahasiswa lainnya, melihat program ini sebagai solusi nyata bagi masa depan. “Saya belum punya rumah, tapi kalau nanti menikah dan bangun keluarga, ini bisa jadi peluang yang sangat membantu,” katanya.

Program 3 Juta Rumah bukan hanya soal pembangunan fisik, melainkan bagian dari pembangunan kesejahteraan masyarakat dari akar—dari rumah yang layak dan terjangkau. Melalui digitalisasi, kolaborasi, dan semangat kebersamaan, pemerintah berharap seluruh rakyat Indonesia dapat melangkah bersama menuju Indonesia Emas 2045.

Karpet merah telah digelar. Kini saatnya rakyat melangkah pasti menuju masa depan yang lebih baik.

parfum AXL